Mengenai Laju Manchester Unitef, Michael Carrick Ikut Berkomentar

Michael Carrick akhirnya mengomentari mengenai masalahnya tentang depresi yang sempat dialaminya sebagai seoang pemain sepakbola. Kekalahan yan dialami ketika melawan Barcelona pada babak Liga Champions 2008/2009 sangat memberikan pukulan terhadapnya.
Manchester United yang mengalami kekalahan tanpa balasan gol 0-2 melawan Barcelona pada pertandingan babak final di Olimpico, Roma yang pada bulan Mei 2009 lalu. Carrick yang ketika itu turun sebagai starter pada posisi sebagai lini tengah MU dan melihat penampialn skuadnya mengalami kejebolan oleh pemain Samuel Eto’o pada menit ke-10 dan Lionel Messi pada menit ke-70.
Bukan kekalahan tersebut yang seakan-akan menyebabkan saja merasa depresi Carrick. Ketika itu menjalani kompetiis dengan sebagai jangkar, sebuah tandukan yang tidak akurat dari Carrick berakhir dengan penguasaan bola bagi Barcelona yang meruopakan gol pembuka.
Kesalahan tersebut memberikan pukulan terhadapanya Carrick. Bahkan depresinya baru mulai turun pada menit 2011, pada saat mereka meraih kemennagan pada partai perempatfinal Liga Champions melawna Chelsea. Tidak hanya yang tahu mengenai masalah ini, dan juga terdapat hal yang kami butuhkan pada maslaah persoalan ini, masalah yang lain tak jauh dari rekannya.
“Hal tersebut ialah sebuah titik terendah pada masa karier saya dan saya tidak mengetahui. Saya berpikir saya telah membiarkan diri saya merasa terpuruk pada kompetisi terbesar di masa karier saya. Saya telah berhasil meraih kemenangan di ajang Liga Champions pada tahun sebelumnya, namun hal tersebut dan tidak relevan,” papar Carrick.
“Saya merasa semacam tengah depresi. Saya sungguh-sungguh sudah benar terpuruk. Saya mengenai ketika itu tu membayangkan jika inilah depresi. Saya yang melukiskannya menjadi sebagai depresi sebab itu bukanlah sesuatu yang dapat terlepas dari begitu saja. Saya yang juga tidak pernah merasa tak enak atau merasa buruk setelah beberapa laga, tapi lantas Anda melaluinya dalam beberapa hari kemudian.”
“Namun, hal yang ini saya sungguh-sungguh tidak dapat disingkirkan. Hal tersebut ialah sebuah perasaaan yang aneh. Saya yang sduah menghukum diri saya sendiri di atas gol tersebut. Saya terus bertanya mengapa saya bisa melakukannya?’ akan tetapi menjadi bola salju. Usai itu sat tahun berlangsung dengan berat. Itu tetap muncul pada waktu yang sudah lama,” papar pria yang sekarang menjadi sang Asisten Manajer Jose Mourinho di MU ini.